Buku"Jendela Dunia"

Sahabat terbaikku saat aku duduk adalah buku, begitulah kata warga Balai Belajar Sahabat .

Dari BBS untuk semua

BBS mengajarkan lukis,teater,musik,komputer,pelajaran sekolah.

A for Apple B for Ball

Magetan, 13/5/2011. Lomba membaca buku sebagai penyemangat dalam program melek baca.

Awas Teroris di sekitarmu

Seminggu lalu sebuah bom ditemukan di Winong Maospati Magetan.

Kunjungan Dinas Pendidikan Kab. Magetan ke BBS

Rombongan Dinas Pendidikan Non Formal, Bu Sri sedang asyik mengobrol salah satu pengurus.

Jumat, 03 Juni 2011

Jejak perjuangan sunan kudus

Judul Buku: Jejak Perjuangan Sunan Kudus Dalam Membangun Karakter Bangsa Penulis : Nur Said Penerbit : Brillian Media Utama, Bandung & Sanggar ‘Menaraku’, Kudus Cetakan : Pertama, 2010 Tebal : xxviii + 260 halaman Peresensi : Muhammad Itsbatun Najih*

Akhir-akhir ini, ‘dakwah’ yang dibungkus melalui kekerasan berkedok ‘jihad’ kembali mencuat. Mulai dari tindak kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah, penyerangan tempat ibadah agama lain, sampai aksi teror bom.

Padahal Islam telah mengajarkan untuk bertoleransi dengan kepercayaan lain. Dakwah melalui pendekatan humanis seperti lewat kesenian, pendidikan, dan kebudayaan pastinya akan menghasilkan sikap toleransi yang tinggi.

Prinsip-prinsip toleransi seperti di atas dalam artian berdakwah dengan tetap menghormati keyakinan orang lain rupanya telah dipraktikkan oleh penyebar Islam di wilayah Kudus pada abad XV.

Beliau adalah Sunan Kudus yang bernama asli Syekh Ja’far Shodiq. Beliau pula yang menjadi salah satu dari anggota Wali Sanga sebagai penyebar Islam di Tanah Jawa. Sosok Sunan Kudus begitu sentral dalam kehidupan masyarakat Kudus dan sekitarnya. Kesentralan itu terwujud dikarenakan Sunan Kudus telah memberikan pondasi pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran.

Tak heran, jika hingga sekarang makam beliau yang berdekatan dengan Menara Kudus selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dari berbagai penjuru negeri. Selain itu, hal tersebut sebagai bukti bahwa ajaran toleransi Sunan Kudus tak lekang oleh zaman dan justru semakin relevan ditengah arus radikalisme dan fundamentalisme beragama yang semakin marak dewasa ini.

Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya pun sejalan dengan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat.

Beberapa nilai toleransi yang diperlihatkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya yakni dengan melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya. Bukan saja melarang untuk menyembelih, sapi yang notabene halal bagi kaum muslim juga ditempatkan di halaman masjid kala itu.

Langkah Sunan Kudus tersebut tentu mengundang rasa simpatik masyarakat yang waktu itu menganggap sapi sebagai hewan suci. Mereka kemudian berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus untuk  bertanya banyak hal lain dari ajaran yang dibawa oleh beliau.

Lama-kelamaan, bermula dari situ, masyarakat semakin banyak yang mendatangi masjid sekaligus mendengarkan petuah-petuah Sunan Kudus. Islam tumbuh dengan cepat. Mungkin akan menjadi lain ceritanya jika Sunan Kudus melawan arus mayoritas dengan menyembelih sapi.

Selain berdakwah lewat sapi, bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai tempat berwudlu. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu dalam kehidupannya.

Pola akulturasi budaya lokal Hindu-Budha dengan Islam juga bisa dilihat dari peninggalan Sunan Kudus berupa menara. Menara Kudus bukanlah menara yang berarsitektur bangunan Timur Tengah, melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan Pura di Bali.

Menara tersebut difungsikan oleh Sunan Kudus sebagai tempat adzan dan tempat untuk memukul bedug setiap kali datangnya bulan Ramadhan. Kini, menara yang konon merupakan menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark  Kabupaten Kudus.

Strategi (akulturasi) dakwah Sunan Kudus adalah suatu hal yang melampaui zamannya. Melampaui zaman karena dakwah dengan mengusung nilai-nilai akulturasi saat itu belumlah ramai dipraktikkan oleh penyebar Islam di Indonesia pada umumnya.

Kini, toleransi beragama berada di titik nadir. Ironisnya, toleransi beragama tak cuma menjadi barang mahal tetapi sudah terlalu langka. Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit dakwah Sunan Kudus, kiranya masyarakat muslim bisa mengembalikan lagi wajah Islam yang ramah dan toleran setelah sebelumnya dihinggapi oleh stigma negatif.

*Pustakawan, tinggal di Yogyakarta (Diambil dari Kompas, Oase)

Selasa, 31 Mei 2011

Pemandangan Alam

Pemandangan Alam

Danau yang jernih
Matahari yang menyinari gunung
Petir menambah keindahan alam
Udara di sana sangat sejuk
Pemandangan di sana sangat indah

By : Ryan kelas 2 SD

Pegunungan


Indahnya gunungku
Ada air mengalir
Ada kota dan ada desa
Ada hujan yang deras
Menambah kota dan desa seperti baru
Pohon, kapal, dan arinya bergoyang-goyang
Gunungnya sangat tinggi
Pohonnya sangat besar
Aku melihat pemandangan


By : Bagas kelas 2

Minggu, 22 Mei 2011

Acuan Kerja

Kinerja Lembaga Kajian Keagamaan dan Pendidikan Sosial
"Balai Belajar Sahabat" 
Ds. Gulun Kec. Maospati Kab. Magetan 



A.    Ketua /Direktur
1.    Memimpin berjalannya lembaga
2.    Menetapkan program kerja tahunan
3.    Menetapkan kebijakan operasional pengurus

B.    Sekretaris
1.    Mengelola kegiatan kesekretariatan dan kehumasan
2.    Mendokumentasikan kegiatan L-Kapis termasuk rapat pengurus, rapat tahunan dan  program kerja.
3.    Bertanggung jawab kepada ketua atas berjalannya lembaga L-Kapis
C.   Bendahara
1.    Sebagai pemegang dan penangguang jawab rekening Lembaga
2.    Merencanakan dan mengelola keuangan lembaga
3.    Memproses, mengelola dan mengadministrasikan setiap pemasukan keuangan lembaga Mengatur keuangan keluar masuk untuk berjalannya lembaga

D.   Bidang Keagamaan :
1. Memupuk rasa kepedulian terhadap multikulturalisme.
2. Menjadikan masyarakat yang berkehidupan damai tanpa anarkis.
3. Menjunjung tinggi rasa toleransi umat beragama.
4. Meningkatkan kajian keagamaan sesuai kebutuhan setempat.
5. Bersama bidang lain memajukan potensi masyarakat yang ramah lingkungan dan ramah sosial


E.    Bidang Pendidikan

1.    Menjalankan program masyarakat yang berbasis pendidikan
2.    Pendampingan terhadap anak putus sekolah agar terbentuk jiwa yang kuat menghadapi tantangan zaman
3.    Menggalakkan masyarakat melek baca dan melek teknologi dengan model kajian
4.    Mengoptimalkan potensi sumber daya masyarakat sebagai pengajar bimbingan anak-anak
5.    Bersama bidang lain memajukan potensi daerah dengan pelatihan,workshop dan kursus. 
F.    Bidang penerbitan dan Budaya
1.    Menerbitkan buletin, majalah anak dan buku.
2.    Mendidik anak-anak untuk memahami budaya setempat dan melestarikannya.
3.    Mengenalkan kepada masyarakat pentingnya menjaga tradisi dan budaya.


G.   Bidang Penelitian dan Sosial
1.    Bersama masyarakat membantu memecahkan masalah baik segi ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan dan politik.
2.    Meneliti lingkungan masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang datang baik dari kemiskinan, pengangguran dan terorisme.
3.    Mengoptimalkan peran masyarakat dalam mengembangkan daerah setempat
4.    Menjalin kemitraan dengan kelembagaan, masyarakat, sponsorship dan publik
5.    Bersama bidang lain memajukan potensi sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat.

Jumat, 20 Mei 2011

"Molen" Roda Perekonomian Gulun

Sebuah alat yang bernama "Molen". fungsinya untuk merubah bentuk dari tanah sawah menjadi tanah liat. Mesin ini dapat berjalan dikendarai oleh empunya. sifatnya melenturkan tanah yang keras menjadi "lempung"(Istilah).  Tanpa adanya alat ini masyarakat setempat kesusahan untuk mengolah dari tanah sawah menjadi tanah liat. prosesnya pun sekitar 5 jam untuk merubah tanah sawah 1 truck dijadikan tanah liat. Untuk sekali sewa pengrajin genteng harus merogok kocek Rp. 400.000. harga yang cukup mahal untuk masyarakat desa Gulun. Untuk uang sewa itu kadang masyarakat harus menunggu genteng laku dulu. Karena pendapatan uang itu hanya dari penuajalan genteng. Begitulah roda perputaran Rupiah di Desa Gulun. Kalaupun belum laku gentengnya hutang sama tetangga.

Kamis, 19 Mei 2011

Manusia Magnet

Waw....super ajaib.Ivan Stoiljkovic, 6 tahun, sepintas tampak seperti anak-anak pada umumnya. namun dibalik itu ia mkg empunyai kelebihan, yaitu tubuhnya mempunyai energi magnet. anak dari California ini, ia juga mampu menyembuhkan sakit dengan tanganya. 25  besi ia angkat juga, hmmm..kira-kira mampu gak ya mengangkat besi bus kota (busway).

Kelulusan UN (tidak) bermoral


Kementerian Pendidikan Indonesia telah mengumumkan kelulusan tingkat SMA senin kemarin, 16 Mei 2011. Dengan adanya kelulusan kemarin banyak pihak yang dirugikan dan diuntungkan. Pihak yang diuntungkan adalah para penjual cat pylox untuk mencoret-coret baju. Toko tersebut harus menyiapkan cat pylok dan cat warna yang banyak. Adapun pihak yang dirugikan sangat banyak sekali. Dari aksi kelulusan SMA  kemarin, Balai Belajar Sahabat (BBS) dalam naungan Lembaga Kajian Keagamaan dan Pendidikan Sosial (KAPIS) mencatat banyak kejadian yang merugikan masyarakat dan anarkisme dari berbagai media,baik cetak maupun elektronik.
1.       Palembang, tawuran antar SMA yang mengakibatkan 3 orang luka kena tusuk.  Secara dengan adanya tawuran masyarakat terganggu akan tawuran ini.
2.       Sumenep, Madura. Tawuran terjadi antar pelajar SMA saat konvoi bersama rekan-rekannya.  Tawuran ini terjadi di taman Bunga sumener. Otomatis dengan tawuran ini masyarakat setempat resah dan takut dengan tawuran pelajar ini.
3.       Padang, Tawuran antar pelajar SMA tak terhelakkan saat konvoi sepeda motor melintas di Lapangan Imam Bonjol Padang, bertemu dengan konvoi rombongan SMA lain saling mengejek. 9 pelajar ditangkap Polisi untuk dimintai keterangan dan pembinaan.
4.       Magetan, selasa (17/5/2011) ini konvoi pelajar SMA Magetan memadati Magetan dengan pengawalan polisi. Pelajaran Agama pun tidak murni dipraktekkan. Di saat agama Budha memperingati Waisak, pelajar konvoi dengan suara keras dan mengganggu arus jalan raya.
Tawuran di berbagai kota ini seharusnya tidak terjadi. Kegembiraan yang mereka rayakan sangat kebablasan. Bagi mereka (anak-anak SMA), seolah sudah habis masa belajarnya selama 12 tahun. Sehingga ekspresi kelulusan dilakukan dengan cara yang tidak wajar.  Keliling kota pakai kendaraan, corat-coret baju, tawuran, pesta minuman keras, dll.
Ini PR pendidik kedepan untuk selalu berperan aktif dalam berbagai kegiatan. Mengisinya dengan norma-norma agama, serta pengemasan kegiatan kelulusan dengan baik. Contoh kegiatan positif saat kelulusan SMA dapat mencontoh Tasyakuran Kelulusan Ujian Nasional 2011 Keluarga Besar Padmanaba SMA Negeri 3 Yogyakarta. Acara itu dikemas semacam bhakti sosial kepada masyarakat. Mereka mensyukuri kelulusan dengan membagi-bagikan makanan kepada kaum miskin kota Yogjakarta.
Ada juga perayaan yang aneh dilakukan dua siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 PIRI Yogyakarta merayakannya dengan berkeliling kompleks sekolah sebanyak 7 putaran. Dengan melepas celana ia teriakan “aku lulus,....aku lulus...”. mereka bernadzar (berjanji) kalau sekolah kami lulus semua kami akan lari keliling dengan melepas celana, dan ini terbukti.
Dari berbagai perayaan yang dilakukan pelajar SMA se –Indonesia. Masih banyak perayaan kelulusan yang dirayakan dengan suka ria dan lebih pada merugikan masyarakat ketimbang manfaatnya. Semoga lebih baik (yyk)

Sabtu, 14 Mei 2011

Bukalah Buku

Membuka buku dunia ada pada gengaman kita. Itulah kata yang pantas untuk memotivasi diri dalam membaca buku. Di negara Singapura buku sudah tidak asing lagi. Dimana orang Singapura berada, di tangan kananya memegang buku. Kayaknya kita harus belajar banyak kepada negara tetangga untuk meningkatkan budaya baca. Setiap perumahan di negara nor Alam syah pasti ada perpustakaan. Perpustakaan di perumahan inilah menarik simpatisan warga sekitar untuk terus membaca. Tidak tanggung-tanggung perpustakaan perumahan biasanya berlantai 5. Di indonesia, perumahan tak lagi menampilkan pesan edukasinya, malahan sebagai ajang komersial sekedar memakmurkan golongan.  
Dari Balai Belajar Sahabat (BBS) Desa Gulun Kec. Maospati Kab. Magetan mengajak masyarakat Magetan untuk aktif dan gemar membaca buku. “Khairu Jalisin fi Zamani Kitabun” begitu pepatah arab mengatakan. Yang artinya “sebaik-baik teman duduk adalah buku”. Walaupun masyarakat Gulun semua warganya produksi genteng tapi tidak mengurungkan niatnya untuk membaca buku. Pemuda dan kalangan tua yang mereka hadapi setiap hari adalah genteng dan genteng. Mereka tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Mereka juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Indonesia. Bukannya tidak mau melihat TV. Masyarakat Gulun bekerja sebelum siaran berita pagi dimulai, dan selesai bekerja setelah siaran berita sore selesai. Jelas tidak ada waktu untuk melihat berita.
Dari sinilah BBS berusaha untuk pendekatan masyarakat dengan membaca saat istirahat. Alhamdulillah respon masyarakat dengan adanya BBS, sedikit mengurangi beban ketidak tahuan akan keilmuan. (yyk.)  

Resensi Buku Santri Eropa

  
Judul : Santri Eropa
Penulis : Rohman Budijanto
Penerbit : Jaring Pena Books
Tebal : 216 hal. 

Buku yang berjudul "Santri Eropa" Perjalanan 4.000 kilometer di daratan Turki dan Siprus. mengkisahkan negara Turki dengan sampul Kuda Troy, yang terkenal dalam film Troy. Yang dibintangi Brad Pitt. Troy kuda gagah, yang ternyata tak berongga di dalamnya, ini dipasang di taman kota pinggir pantai Canakkale. Dalam film aslinya syutingnya sama sekali tak dilakukan di Turki, kota Troya sendiri berada di luar kota Canakkale,sekitar 30 menit dari Canakkale. Kota Troya hidup berabad-abad, namun dunia hanya mengenal lewat perang Troya dalam mitologi karangan Homerus.
Turki sendiri mayoritas rakyatnya adalah muslim, dengan sekitar 60 persen perempuan dewasanya berjilbab. Anehnya pemerintahs setempat tidak membolehkan perempuan mengenakan jilbab saat bekerja di kantor. Dalam bukunya ini Rohman Budijanto mengajak pembaca untuk menengok bangsa santri eropa. Kita juga diajak bernostalgia melihat kembali Mustafa Kemal Ataturk, seorang pahlawan perang dan negarawan yang menyelamatkan Turki selama kekaisaran Ottoman setelah perang dunia I. Saat membaca ini kita diajak juga melihat peninggalan sufi terkenal Jalaludin Rumi serta gua Ashabul kahfi.
Sejarah sangat penting untuk dibaca dan dipelajari. Rasanya belum lengkap kalau kita tahu sejarah dunia. Baik kebudayaan Eropa maupun Asia, lebih-lebih timur Tengah.(yyk)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Terima kasih atas kunjungannya, kritik dan saran kami terima "Baca Buku Buka Dunia"